Muak dengan Dualisme, Persija Ultimatum Menpora

VIVA.co.id – Kisruh sepakbola Indonesia belum juga berakhir. Pertemuan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi, dengan perwakilan klub-klub yang berlaga di Liga Super Indonesia (ISL) atau QNB League musim ini juga tidak menemukan titik temu. Presiden Persija, Ferry Paulus, yang ikut ambil bagian dalam pertemuan ini sangat menyesalkan keputusan Menpora membekukan PSSI. Sebab, menurutnya, langkah ini justru akan membuat persepakbola dan kompetisi di Indonesia semakin tidak menentu. Kerugian demi kerugian pun kini mengancam klub-klub QNB League. Ferry bahkan dengan tegas meminta Menpora bertanggung jawab bila liga benar-benar berhenti. “Sanksi FIFA ini soal waktu saja. Kalau Menpora tetap membekukan PSSI dan membentuk federasi tandingan, ya selesai semua,” ujar Ferry kepada wartawan belum lama ini. Ferry menjelaskan, kisruh yang melanda sepakbola Indonesia saat ini sudah membuat klub menderita. Sebab, imbas dari pembekuan tersebut telah membuat Persija tidak bisa menggelar pertandingan. Situasi ini juga mempengaruhi sponsor-sponsor Persija. Mereka makin lama makin ragu untuk mendukung tim Persija. ”Karena berada dalam ketidakpastian, maka pasti sponsor juga akan takut mendukung kami,” ujar Ferry. Ferry pun meminta agar Menpora segera merespons keinginan klub. Dia berharap Menpora segera mencabut pembekuan PSSI dan mengizinkan liga digelar. Dikatakan Ferry, jika Menpora belum juga melakukan menganulir pembekuan PSSI hingga 1 Mei 2015, maka Persija akan merekomendasikan kepada para petinggi PSSI untuk benar-benar menghentikan kompetisi QNB League pada musim ini. “Kami akan sarankan kepada Komite Eksekutif PSSI, untuk dengan terpaksa memutuskan kompetisi harus diberhentikan karena force majeur , karena dalam ketidakpastian masa depan sepakbola dan kompetisi. Dan untuk itu, kami klub-klub ISL minta Menpora harus tanggung jawab berkaitan dengan semua kerugian-kerugian yang kami alami,” katanya. Persija juga sudah muak dengan kondisi dualisme kompetisi dan federasi. “Kami sudah pernah mengalami dualisme. Kompetisi di luar PSSI pasti tidak diakui oleh FIFA atau AFC. Jadi mana mungkin bisa begitu saja mengambil alih PSSI melalui tim transisi. Kalau transisi itu terbentuk sama saja Menpora membuat PSSI baru dengan merampas kepengurusan sebelumnya dengan cara yang salah. Bukan begitu?” ujar Ferry. (one)

Sumber: VivaNews