Konstruksi PLTU Tiongkok Runtuh, 74 Tewas

Beijing – Sebanyak 74 orang tewas setelah sebagian bangunan pembangkit listrik Fengcheng di Provinsi Jiangxi, Tiongkok, runtuh pada Kamis (24/11). Kantor berita pemerintah Xinhua melaporkan sebanyak lima pekerja yang terluka dibawa ke rumah sakit pada Kamis pagi. Xinhua menyebut sebanyak 68 korban tewas telah diidentifikasi. Usia korban berkisar dari 23 ke 53 tahun. Dua orang lain terluka, termasuk seseorang yang berhasil dievakuasi penyelamat dari bawah puing-puing di lokasi kejadian. Badan Administrasi Keselamatan Kerja Tiongkok menyatakan konstruksi itu dibangun di sekitar menara pendinginan yang sedang mengalami perbaikan. Sebanyak 68 orang sedang bekerja di konstruksi itu pada waktu kejadian. Tayangan televisi Tiongkok, CCTV memperlihatkan lebih dari 200 petugas pemadam Metrolink dikerahkan, tim pencari, dan anjing penyelamat. Gambar-gambar CCTV menunjukkan tumpukan logam dan puluhan pekerja penyelamatan mencari korban di bawah reruntuhan. Presiden Tiongkok Xi Jinping pun mendesak pemerintah setempat untuk mengambil langkah upaya-upaya penyelamatan, dan pengobatan. Otoritas setempat diminta melakukan tindakan lanjut setelah konstruksi bangunan itu runtuh. Perdana Menteri Li Keqiang menyerukan kepada tim SAR untuk bekerja dengan cepat menyelamatkan orang-orang yang terjebak. “Petugas harus melakukan segala upaya untuk mengobati luka-luka dan melakukan upaya terbaik mereka untuk mengantisipasi jumlah korban yang besar,” tambahnya. PM Li juga telah memerintahkan penyelidikan, dan mendesak agar orang-orang yang bertanggung-jawab dalam kecelakaan tersebut dihukum. “Pengawasan ketat dan pemeriksaan preventif, bisa mencegah kecelakaan besar seperti ini terulang lagi,” katanya. Xinhua tidak mengidentifikasi jenis pembangkit listrik Fengcheng. Tetapi seperti dikutip media setempat, pembangkit listrik itu bertenaga batubara. Tiongkok telah bersumpah untuk meningkatkan keselamatan kerja di berbagai fasilitas proyek pembangunan. Presiden Xi Jinping telah mengatakan pihak terkait akan mempelajari kasus kecelakaan kerja setelah ledakan kimia di kota pelabuhan Tianjin yang menewaskan lebih dari 170 tahun lalu. Unggul Wirawan/WIR Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu