Dedi Mulyadi Belum Pikirkan Pilgub Jabar

Jakarta – Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi masih enggan menanggapi kesiapannya menghadapi Pilgub Jawa Barat. Dedi menyatakan belum memutuskan untuk maju dalam Pilgub Jabar yang bakal digelar 2018 mendatang itu. Hal itu disampaikan pria yang akrab disapa Kang Dedi itu kepada SP usai mengikuti Rapat Koordinasi Teknis Pemenangan Pemilu yang digelar DPP Partai Golkar di Hotel Menara Peninsula Jakarta, Sabtu (3/9) malam. Dedi menyatakan hingga kini masih fokus menyelesaikan tugasnya sebagai Bupati Purwakarta. Pria yang sehari-hari mengenakan pakaian dan iket khas Sunda ini ingin menjadikan Purwakarta sebagai kabupaten terbaik. “Saya belum memutuskan maju atau tidak maju soal Pilgub (Jawa Barat). Itu soal nanti. Saya bicara hari ini saja, masih fokus buat Purwakarta agar menjadi kabupaten terbaik,” kata Dedi. Ketimbang berbicara mengenai Pilgub Jawa Barat yang masih dua tahun lagi, Dedi lebih tertarik mengkonsolidasikan Partai Golkar terutama di wilayah Jawa Barat yang dipimpinnya. Menurutnya, langkah ini lebih membawa maslahat untuk organisasi karena jaringan internal dan eksternal organisasi akan terbangun. Hal ini penting dalam rangka pemenangan seluruh kontestasi politik yang diikuti oleh Partai Golkar di Jawa Barat seperti Pilkada Kabupaten Bekasi, Kota Tasik, dan Kota Cimahi yang bakal digelar dalam hitungan bulan. “Mending pikirkan organisasi saja daripada soal diri pribadi. Misal hari ini saya fokus membenahi Partai Golkar Jawa Barat secara internal. Kemudian, jangan lupa bahwa jaringan eksternal pun perlu dijaga dan diperlebar sehingga Partai Golkar Jawa Barat mampu memenangi setiap kontestasi politik. Tahapan untuk mengikuti Pilkada Kabupaten Bekasi, Kota Tasik dan Kota Cimahi kan sedang kita lakukan. Itu saja dulu fokusnya, gak ke Pilgub (Jawa Barat),” papar Dedi. Untuk pemenangan ini, Dedi menyerukan seluruh pengurus dan kader Golkar menjalankan strategi kultural dalam membangun konstituen. Menurutnya, masyarakat saat ini membutuhkan sentuhan langsung dibanding konsolidasi dengan cara lain. “Jalinan dengan masyarakat itu tidak boleh putus, ada anggota masyarakat yang meninggal ya datanglah untuk melayat, kalau ada yang sakit saling tengok, kalau diundang hajatan, hadir saja. Silaturahmi yang paling penting,” katanya. Fana Suparman/CAH Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu