CPP Hadirkan Mata Uang Virtual Centcoin

Jakarta – Faktor geo politik seringkali begitu dominan mempengaruhi pergerakan kurs mata uang. Banyak pihak yang memainkan sentimen geo politik untuk membuat mata uang berfluktuasi. Ini karena uang tidak hanya sekadar menjadi alat tukar dalam perdagangan barang dan jasa, tapi juga menjadi alat spekulasi demi meraup margin keuntungan tertentu. Tidak mengherankan bila perdagangan mata uang tidak ubahnya kompetisi mencegah pihak lain untuk ikut mengambil untung darinya (barrier to entry). Kondisi itu membawa dampak bagi ketidakstabilan nilai tukar, dan ujung-ujungnya mengkhawatirkan masyarakat pemegang mata uang. Saat ini, dalam era teknologi dan komunikasi (ICT) yang berkembang semakin pesat, potensi menurunkan tingkat ketergantungan masyarakat terhadap mata uang tradisional makin terbuka. Sejumlah pihak telah menginisiasi kelahiran uang digital sebagai alternatif pembayaran, yang dianggap murni berdasarkan permintaan konsumen. Salah satunya, mata uang digital bernama cryptocurrenccy . Ini merupakan mata uang yang dibentuk dengan perlindungan kriptografi yang diklain rumit, sehingga tidak mudah digandakan atau berpindah tangan kepada pihak-pihak yang memiliki akses kepadanya. Beberapa mata uang digital dimaksud sudah populer bahkan banyak digunakan dalam berbagai transaksi keuangan, seperti Bitcoin dan Litecoin. Dengan tujuan memperkaya pilihan masyarakat dunia pada mata uang digital berbasis cryptocurrenccy , perusahaan bernama Centennial Coin for Prosperity (CPP) pun memperkenalkan Centcoin. “Kami hadir tidak hanya mengubah situasi pasar saat ini, tetapi juga memainkan peran penting dalam pengembangan tren masa depan,” demikian CEO Centennial Coin for Properity, Richard Barrows saat memperkenalkan produk baru tersebut di Jakarta, Kamis (17/11) Menurutnya CPP menghadirkan sejumlah konsep baru dalam cara mendekati perkembangan keuangan, yang telah terintegrasi dalam kerangka kerja konseptual. “Mekanisme arus kas yang saling beredar dan saling berhubungan menjadi menjadi landasan dari alat keuangan baru yang kami tawarkan. Dan CPP memberikan tingkat kepercayaan baru kepada konsumen yang telah dirancang untuk kebutuhan industri keuangan,” imbuhnya. Lebih jauh, terkait keamanan penggunaan alat pembayaran tersebut, CPP menyediakan Maidsafe.net. Ini sebuah jaringan Secure Acses for Everyone (SAFE) yang dirancang selama lebih dari satu dekade. Jaringan ini diklaim membuat data dan komunikasi terdesentralisasi dengan menggunakan berbagai macam kemampuan komputer dari seluruh pengguna jaringan. “Dengan tidak terdesentralisasi seperti itu, keamanan yang disediakan semakin pasti,” tandasnya. Pada kesempatan itu, CPP juga memperkenalkan Cointpayment.net yang merupakan pintu gerbang berbagai transaksi pada lebih dari 55 jenis cryptocurrenccy selain Centcoin milik CPP. “Melalui situs ini konsumen bisa menginvestasikan dananya untuk dikonversi menjadi cryptocurrenccy untuk mendapat keuntungan kenaikan nilai mata uang digital yang dipegang,” ujar Alexander Alexandrov, CEO Cointpayments.net dalam kesempatan yang sama. Alexander juga menerangkan bahwa situs milik CPP tersebut juga menyediakan jasa perdagangan mata uang virtual yang cepat dan aman. Konsumen menurutnya dapat menggunakan koin apapun yang dimiliki, juga menerima pembayaran dengan mata uang lain yang digunakan. Dikatakan Alexander, saat ini terdapat 85.000 merchant terdaftar di Cointpayment.net dengan nilai transaksi mencapai US$ 45 juta. Acara perkenalan produk virtual CPP tersebut juga dihadiri Co-Founder Nurbaya Initiative, Andy Sjarif serta aktris dan pebisnis, Luna Maya. Dalam kesempatan tersebut Andy meyakini penggunaan cryptocurrenccy akan menjadi tren masyarakat di Indonesia seperti halnya produk-produk berbasis online liannya seperti Gojek. Karena itu kehadirannya akan sulit dibendung. Andy yang dikenal memiliki passion besar dalam digitalisasi usaha kecil menengah di tanah Air ini melihat cryptocurrenccy bisa menjadi jembatan baru bagi sekitar 64 juta UKM yang tidak memiliki rekening bank untuk bisa mengakses pasar dunia melalui media digital. “Alat pembayaran ini lebih simpel dibanding mereka membuka rekening di bank. Apalagi banyak pelaku UKM yang takut ke kantob bank, sekalipun untuk membuka rekening,” ujarnya. Mashud Toarik/MT Majalah Investor

Sumber: BeritaSatu