Tiongkok Tempatkan Senjata di Pulau Sengketa LCS

Washington – Tiongkok menempatkan senjata, termasuk sistem anti-pesawat dan anti-rudal, di keseluruhan tujuh pulau buatannya di Laut China Selatan (LCS). Meskipun negara itu membantah melakukan militerisasi di wilayah perairan strategis itu, lembaga pemikir Amerika Serikat (AS) yaitu Inisiatif Transparansi Maritim Asia (Asia Maritime Tranparency Initiative/AMTI) mengonfirmasi temuan itu lewat citra satelit. AMTI telah melacak pembangunan struktur heksagonal di karang-karang Fiery, Mischief, dan Subi di Kepulauan Spratly sejak bulan Juni dan Juli. Tiongkok juga telah membangun landasan militer panjang di pulau-pulau tersebut. “Tampaknya struktur-struktur ini adalah evolusi dari titik benteng pertahanan yang telah dibangun di fasilitas-fasilitas lebih kecil milik Tiongkok di karang-karang Gaven, Hughes, Johnson, dan Cuarteron,” sebut pernyataan AMTI kepada kantor berita Inggris, Reuters, hari Rabu (14/12). “Model ini telah melewati evolusi lainnya dengan dasar jauh lebih besar di karang-karang Fiery, Subi, dan Mischief,” tambah AMTI. Citra satelit di karang Hughes dan Gaven menunjukkan bentuk yang tampaknya merupakan anti-pesawat bersenjata dan sesuatu seperti sistem senjata jarak dekat (close-in weapons systems/CIWS) untuk melindungi dari serangan rudal kapal. Gambar-gambar dari Karang Fiery Cross juga menunjukan menara-menara yang berisi radar. Menurut AMTI, penutup sudah terpasang di menara-menara Fiery Cross, tapi dari sisi ukuran platform dan penutupnya sepertinya ingin menyembunyikan sistem pertahanan seperti di karang-karang kecil. Diantara senjata lainnya, CIWS adalah garis terakhir pertahanan untuk melawan serangan kapal-kapal pelayaran oleh AS atau negara lainnya. “Senjata ini dan kemungkinan landasan CIWS menunjukkan bahwa Beijing serius atas pertahanan di pulau-pulau buatannya jika terjadi darurat bersenjata di LCS,” sebut AMTI. Direktur AMTI Greg Poling menyatakan AMTI telah menghabiskan berbulan-bulan untuk mencari tahu tujuan struktur-struktur di pulau buatan Tiongkok itu. “Ini pertama kalinya kami yakin menyatakan bahwa itu adalah anti-pesawat dan landasan CIWS. Kami tidak tahu bahwa mereka punya sistem sedemikian besar dan sangat maju,” kata Poling. Poling menyatakan pembangunan struktur tersebut adalah militerisasi. “Tiongkok tidak bisa beralasan hanya untuk tujuan pertahanan, tapi jika Anda membangun senjata anti-pesawat dan landasan CIWS, artinya Anda menyiapkan diri untuk konflik masa depan,” tandasnya. Natasia Christy Wahyuni/WIR Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu