Bank Syariah Kembangkan Pembiayaan Kelapa Sawit

Jakarta – Dua bank umum syariah (BUS) mengembangkan pembiayaan perkebunan terutama subsektor kelapa sawit, sebagai bagian strategi perluasan bisnis dan mendukung ekspansi bisnis. ESVP Bisnis PT Bank BNI Syariah Dhias Widhiyati menyatakan, saat ini persentase penyaluran perseroan ke kelapa sawit beserta turunan subsektor masih kurang dari 10% terhadap pembiayaan komersial. Sebab, BNI Syariah baru mulai masuk ke sektor ekonomi perkebunan pada awal 2016. Latar belakang perseroan mulai menggarap bisnis ke sektor tersebut adalah implementasi sinergi dengan induk usaha, yakni PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI). “Pembiayaan kelapa sawit yang kami kerjakan merupakan value chain (rantai nilai) dari debitor yang sudah dibiayai BNI dengan pola inti plasma. Sejalan dengan hal tersebut kami memang berupaya menambah eksposur pengalaman pembiayaan ke perkebunan,” ungkap dia di Jakarta, Rabu (21/9). Di samping menambah variasi sektor pembiayaan, Dhias menjelaskan, keputusan perseroan tersebut juga bertujuan untuk implementasi penyebaran risiko (spreading risk). Sebab, BNI Syariah sedang berupaya menurunkan konsentrasi pembiayaan komersial yang secara portofolio lebih besar di bisnis jalur linkage. BNI Syariah mencatat, porsi linkage ke koperasi, baitul maal wat tamwil (BMT) dan perusahaan multifinance sudah mencapai 38% terhadap pembiayaan perseroan di komersial. Berkaitan dengan itu, Dhias mengakui, perseroan ada rencana mengurangi persentase jalur linkage. Sementara itu, statistik lembaga pembiayaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, rasio pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) industri perusahaan pembiayaan mencapai 2,23% pada Juli 2016. Padahal, pada periode sama 2015 posisi NPF industri ini baru di angka 1,58%. “Kalau terkait linkage perusahaan multifinance, salah satu faktor karena tren NPF industri mereka yang meningkat,” papar Dhias. Di sisi lain, PT Bank Muamalat Indonesia Tbk juga sedang mengembangkan pembiayaan korporasi di sisi subsektor kelapa sawit. Meski harga masih fluktuatif, Direktur Bisnis Korporasi Bank Muamalat Indra Y Sugiarto menegaskan, subsektor tersebut masih potensial dibiayai karena kebutuhan terhadap hasil olahan minyak sawit tetap ada. Sejalan dengan pandangan itu, Bank Muamalat merealisasikan penandatanganan kerja sama untuk pemberian line facility al murabahah I sebesar Rp 70 miliar dan tahap II Rp 5 miliar untuk revolving (modal kerja) kepada PT Duta Mentari Raya. “Saat ini, total pembiayaan kami mencapai sekitar Rp 40 triliun dan porsi korporasi Rp 21 triliun. Nah, dari Rp 21 triliun tersebut komposisi pembiayaan kelapa sawit masih kurang dari 5%, tapi akan diupayakan naik menjadi 7,5% sampai akhir tahun,” ungkap Indra. Devie Kania/ARS Investor Daily

Sumber: BeritaSatu