Tim Penasihat Hukum Jessica Berencana Hadirkan Saksi Ahli IT

Jakarta – Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, menjadwalkan sidang lanjutan kasus kopi beracun dengan agenda meminta keterangan saksi ahli dari tim penasihat hukum terdakwa Jessica Kumala Wongso, hari ini. Pada sidang ke-21 ini, tim penasehat hukum berencana menghadirkan dua saksi ahli Informasi Teknologi (IT) dan ahli psikologi. “Rencananya ada dua saksi pertama ahli IT dan ahli psikologi,” ujar salah satu pengacara Jessica, Yudi Wibowo kepada wartawan, Kamis (15/9). Dikatakannya, tim penasihat hukum juga telah menyiapkan saksi ahli pidana untuk dimintai keterangan pada sidang berikutnya. “Ahli pidana nanti terakhir,” ungkapnya. Pada sidang ke-20, Rabu (15/9) kemarin, tim penasihat hukum menghadirkan dua saksi ahli. Pertama ahli Toksikologi Kimia Budiawan dan ahli Patologi Anatomi Gatot Susilo Lawrence. Sidang yang berjalan sekitar 12 jam -sejak pukul 10.30 WIB dan selesai pada pukul 23.47 WIB- itu, dibagi dalam dua sesi. Pada sesi pertama Budiawan menyampaikan analisanya terkait tewasnya Mirna. Menurutnya, takaran sianida yang ditemukan di dalam lambung Mirna sangat sedikit. Sementara, sianida di dalam gelas sisa Es Kopi Vietnam jumlahnya sangat besar, sehingga bisa memberikan reaksi terhadap orang sekitar. Bahkan, orang di dekat Mirna bisa pingsan. Sedangkan, Gatot menilai kematian Mirna dipastikan bukan karena sianida. Cairan sianida sebesar 0,2 miligram/liter yang ditemukan di dalam lambung merupakan akibat post mortem atau pasca kematian. Ia menambahkan, alat bukti yang disajikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak cukup. Seharusnya, pada jasad Mirna dilakukan autopsi lengkap untuk memeriksa darah, hati, jantung, otak, termasuk ginjal. Jadi tidak cukup hanya memeriksa lambung. Usai persidangan, penasihat hukum terdakwa Jessica, Otto Hasibuan, menegaskan kalau kasus ini sudah terang benderang. “Saya pikir sudah terang benderang kasus ini. Karena tadi kan pak Gatot sudah mengatakan bahwa penyebab kematian tidak bisa ditegakkan karena tidak dilakukan autopsi. Kedua, dia mengatakan matinya korban pasti bukan karena sianida,” katanya. Ia menjelaskan, tidak ditemukan sianida di dalam hati yang berbentuk tiosionat. “Sianida juga tidak ditemukan di dalam urine, jantung, darah, otak tidak diperiksa. Nah, dasar itu lah disimpulkan memang tidak ada sianida. Jadi kalau ada 0,2 mg/l (di dalam lambung), itu adalah karena pasca-kematian. Di mana 0,2 mg/l itu muncul karena ada formalin yang masuk, yang bisa menimbulkan sianida di kemudian hari. Tapi bukan sianida yang masuk pada waktu Mirna masih hidup,” tambahnya. Otto mengklaim, tidak ada bukti yang kuat dalam kasus ini. Bahkan, sebaliknya ada bukti-bukti yang diajukan JPU justru menyatakan hasil negatif. “Jadi seperti yang saya katakan berkali-kali kalau tidak ada sianida, ya tidak ada pembunuhan. Tentu tidak ada kasus,” tegasnya. Menurutnya, seharusnya korban diautopsi lengkap sehingga bisa diambil kesimpulan kematian. “Ini kan secara ilmiah tidak boleh, jadi tetap harus autopsi. Apakah gara-gara kelalaian orang lain, tidak dilakukan autopsi, lantas Jessica dihukum mati. Jangan dong, tidak salah masa dihukum mati. Kan persidangan ini bukan asumsi, bukan dugaan. Tapi bukti,” tandasnya. Bayu Marhaenjati/CAH BeritaSatu.com

Sumber: BeritaSatu