Presiden Park Nyatakan Pemakzulan Tunggu Pengadilan

Seoul – Presiden Korea Selatan Park Geun-hye yang menghadapi tekanan karena skandalnya, menyatakan menunggu sampai putusan pengadilan jika parlemen benar-benar memakzulkannya. Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa krisis politik di Korsel bisa berlangsung selama berbulan-bulan. Parlemen diharapkan menggelar pemungutan suara atas pengajuan mosi pemakzulan hari Jumat (9/12). Namun, sekalipun oposisi berhasil memenangkan dua per tiga suara parlemen, proses pemakzulan harus diserahkan kepada Mahkamah Konstitusi (MK) dengan persidangan bisa sampai berbulan-bulan. Park bertemu dengan para pemimpin Partai Saenuri, termasuk petingginya, Chung Jin-suk, setelah pihak partai melobi dia agar menerima usulan untuk mundur bulan April 2017. Partai Saenuri tidak memberi sinyal untuk pengunduran diri dalam waktu dekat. “Jika proses pemakzulan dilakukan dan mosi disetujui, saya akan mengawasi proses oleh MK dan secara tenang melakukan apa yang terbaik untuk negara ini dan rakyatnya,” kata Chung, mengutip pernyataan Park. Park akan mengakhiri jabatannya secara resmi bulan Februari 2018, namun dia bisa menjadi pemimpin pertama yang diturunkan meskipun terpilih secara demokratis. Komentarnya menunjukkan bahwa Park tidak akan berubah pikiran dalam menghadapi tekanan hebat untuk pengunduran dirinya. “Dia akan berjuang keras untuk melawan (pemakzulan) di Mahakamah Konstitusi. Dan apakah mosi berhasil dibalikkan? Dia akan tetap berada dalam jabatannya sampai akhir. Tidak masalah jika putusan MK melawan pemakzulan parlemen,” kata pengamat politik dari iGM Consulting, Rhee Jong-hoon. Tiga partai oposisi setidaknya membutuhkan 28 anggota dari partai Park, Saenuri, untuk meloloskan UU Pemakzulan. Setidaknya 29 dari anggota Partai Saenuri telah berencana memilih pemakzulan, namun belakangan diragukan setelah Park menyampaikan pidato. Sebelumnya, Park lewat pidatonya, mengaku siap mundur, namun menyerahkan prosesnya kepada parlemen. Hal itu dinilai oposisi sebagai strategi mengulur-ulur waktu dan memecah belah suara di dalam partainya. Partai Saenuri akhirnya mengajukan agar Park mundur pada April tahun depan. Park terlibat dalam skandal yang melibatkan teman lamanya, Choi Soon-sil, yakni putri dari pemimpin sekte agama, Choi Tae-min yang menjadi guru Park sampai kematiannya tahun 1994. Park diduga melakukan kolusi dengan Choi untuk mendesak para konglomerat Korea untuk menyumbangkan puluhan juta dolar kepada yayasan nirlaba Choi. Para taipan yang memberikan uangnya antara lain dari perusahaan Samsung Group, Hyundai Motor, dan Lotte. Natasia Christy Wahyuni/WIR Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu