Pemuda Katolik Siap Jadi Garda Terdepan Jaga Kebhinekaan

Solo – Pengurus Pusat Pemuda Katolik menegaskan bahwa pihaknya siap menjadi garda terdepan untuk menjaga kebhinekaan. Pemuda Katolik mengimbau para kadernya terlibat dan berpartisipasi aktif untuk menjaga dan membangun kebhinekaan di masing-masing daerah. “Saya mengimbau kepada kader Pemuda Katolik di mana pun berada untuk menjadi garda terdepan menjaga dan membangun kebhinekaan,” ujat Ketua Umum Pemuda Katolik Karolin Margret Natasa di acara Rapimnas Pemuda Katolik di Hotel Sahid Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (19/11). Acara Rapimnas yang bertema “Konsolidasi Organisasi untuk Memperkuat Pembangunan Nasional Berbasis Desa” ini dibuka oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjoyo dan dihadari oleh Wali Kota Surakarta FX. Rudi Rudyatmo. Sementara seminarnya dihadir oleh sejumlah tokoh nasional, antara lain Deputi Komunikasi Politik dan Informasi Kantor Staf Kepresidenan Eko Sulistyo, Pemikir Kebangsaan Yudi Latif, Tenaga Profesional Lemhanas Mayjen TNI (Purn) E. Imam Maksudi, Anggota DPR Agustina Wilujeng dan Diah Pitaloka, Anggota DPD Anang Prihantoro dan pemerhati dan peneliti bidang desa Goris Sahdan. Caranya, kata Karolin, adalah mengedepankan dialog dan musyawarah dalam menghadapi masalah dan terus menjalin komunikasi serta silahturahmi dengan kelompok lain demi menjaga kebhinekaan dan keutuhan NKRI. “Jika ada persoalan hukum, ya serahkan aparat penegak hukum. Jangan menggunakan cara -cara yang bisa mengancam kebhinekaan dan mengganggu persatuan dan kesatuan,” tandas dia. Pemuda Katolik, kata Karolin, sudah terlibat dan berpartisipasi aktif memperjuangkan persatuan dan kesatuan Indonesia dari kolonialisme. Bahkan pada tahun 1965, tatkala gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) merajalela, Pemuda Katolik bersama organisasi kepemudaan lainnya berupaya membendungnya. “Sejarah telah mencatat, kader-kader Pemuda Katolik mengambil peran dalam dinamika kehidupan politik bangsa dan negara. Kini, dalam realitas Indonesia saat ini, kolonialisme hadir dalam bentuk lain, mulai dari ancaman terhadap kesatuan dan persatuan bangsa, kesenjangan sosial yang besar akibat rantai kemiskinan dan dampak buruk dari arus globalisasi,” ungkap Karolin. Sementara Ketua Bidang Pemuda dan Politik dan Olahraga Pemuda Katolik Frederikus Tulis mengatakan bangsa Indonesia adalah bangsa majemuk yang terdiri dari ribuan pulau, suku, bahasa, adat istiadat, dan golongan. Kemajemukan tersebut, kata dia, adalah sesuatu yang terberikan, yang mau tidak mau harus diterima sebagai anugerah dari Tuhan yang Maha Esa. “Kita patut bersyukur karena dengan kemajemukan tersebut memberikan warna tersendiri. Kemajemukan tersebut menjadi kekayaan yang telah berkontribusi bagi pembangunan bangsa dan negara. Para founding fathers menyadari betul eksistensi bangsa Indonesia tersebut sehingga merajut bangsa ini dalam kebhinekaan dengan semboyan yang tak pernah usang Bhineka Tunggal Ika,” tutur Frederikus. Frederikus mengakui bahwa dalam sejarahnya, kebhinekaan kita sering diuji. Menurut dia, jika perbedaan tidak diolah dengan baik akan bisa menimbulkan perpecahan. Namun, perbedaan tersebut kadang sering dipolitisasi dan dikapitalisasi oleh kelompok tertentu demi kepentingan tertentu. “Kenyataan saat ini pun menunjukkan kebhinekaan kita sedang diuji. Adanya politisasi SARA dan aksi teror di beberapa daerah seperti di Samarinda, Singkawang, dan Kota Batu mengindikasi bahwa kebhinekaan kita sedang diuji. Rajutan kebhinekaan itu bisa rusak lantaran nafsu kelompok politik dan kelompok garis keras,” tandas dia. Bangsa Indonesia, kata Frederikus, tidak boleh kalah dengan kelompok yang ingin memecah belah bangsa ini. Bangsa ini didirikan oleh foundhing fathers yang mempunya semangat dan jiwa kebhinekaan dalam persatuan dan kesatuan NKRI. “Makanya, kita mendukung dan berpartisipasi berbagai gerakan untuk menjaga kebhinekaan demi keutuhan NKRI yang dilakukan berbagai kelompok di sejumlah daerah,” katanya. Yustinus Paat/PCN BeritaSatu.com

Sumber: BeritaSatu