Desa Takirin, Menikmati Listrik Setelah 70 Tahun Indonesia Merdeka

Belu – Warga Desa Takirin, Kecamatan Tasifito Timur, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur baru menikmati listrik sejak 12 Agustus 2015 lalu. Mereka tak perlu lagi membeli minyak tanah di Atambua sebagai bahan bakar pelita untuk menerangi rumah. Sekarang cukup membeli token senilai Rp 50.000 bisa menikmati listrik hingga tiga bulan. Salah seorang warga Takirin, Paul Linus, mengatakan semenjak listrik masuk ke desanya kehidupan masyarakat meningkat. Masyarakat setempat sudah ada yang membuka usaha kecil seperti kios dan pemotongan ayam. Sebelumnya semua warga di sini hanya mengandalkan nafkah dari bertani. “Sekarang listrik menyala 24 jam. Kami bisa mendapat informasi dari (tayangan) televisi. Sebelumnya tidak ada listrik, kami tertutup (tidak dapat informasi),” kata Paul di Takirin, Selasa (22/11). Tokoh agama itu menceritakan listrik membuat anak-anak semakin kreatif. Dia bilang anak-anak kini bisa mendengar dan mendendangkan lagu kanak-kanak. Lagu itu bisa dilihat melalui tayangan televisi. Selain itu proses belajar di rumah pun semakin nyaman lantaran listrik menyala terus. “Setelah ada listrik kami beli televisi, kipas angin, dan ada yang beli kulkas,” ujarnya. Dikatakannya warga desa Takirin mendapat sambungan daya 450 Volt Ampere (VA). Selain itu mereka mendapat penerangan berupa tiga lampu 10 watt untuk setiap rumah. Dia bilang pemakaian listrik tak selalu 24 jam. Pasalnya pagi hingga siang hari rutinitas bekerja. Dia menyebut menonton televisi hanya sekitar tiga jam yakni sekitar pukul 19.00-22.00 WITA. “Dengan token Rp 50.000 kami bisa pakai selama tiga bulan. Jadi kami pun berhemat pakai listrik,” papar pria 38 tahun itu. Di tempat yang sama, Andreas Baok menambahkan Desa Takirin baru menikmati listrik setelah 70 tahun Indonesia merdeka. Selama ini penerangan hanya berasal dari pelita yakni kaleng yang diisi minyak tanah kemudian diberi kapas sebagai sumbu. Dia menceritakan untuk memperoleh minyak tanah harus pergi ke Atambua dengan biaya ojek pergi-pulang Rp 50.000. Pasalnya Desa Takirin ke Atambua berjarak 16 kilometer. Dia membeli lima liter minyak tanah dengan kemasan jeriken untuk penerangan pelita selama satu pekan. “Harga minyak tanah Rp 6.000 per liter. Jadi total selama satu pekan kami keluarkan Rp 80.000,” ujarnya. Pria berusia 41 tahun itu bilang akses listrik yang belum menjangkau desanya pun menyulitkan proses administrasi. Pasalnya komputer di kantor kecamatan pun belum bisa terpakai. Alhasil untuk keperluan mengetik selembar kertas harus pergi ke Atambua dan merogoh kocek Rp 50.000 sebagai ongkos. “Urus satu lembar kertas saja terpaksa buang Rp 50.000. Sekarang sudah tidak lagi,” ujarnya. Takirin merupakan bagian dari delapan desa di wilayah perbatasan yang menikmati listrik sejak tahun lalu. Menerangi wilayah perbatasan dan pulau terdepan merupakan program Pemerintahan Joko Widodo. Andreas mengungkapkan jarak desanya dengan Timor Leste hanya sekitar satu jam berjalan kaki. Semenjak listrik masuk 2015 lalu, dia menyebut penduduk Timor Leste kagum. “Kami punya hubungan kekeluargaan dengan saudara di Timor (Leste). Mereka bilang sekarang desa kami sudah terang padahal daerah pelosok,” ungkapnya. Rangga Prakoso/JAS BeritaSatu.com

Sumber: BeritaSatu